Tak terasa, hampir 3 minggu, kami berdua saja di rumah.
Daridaru, sang elang, sudah terbang ke galaxy.
Beruntung masih tinggal di neneknya, jadi tidak mengeluarkan biaya akomodasi.
Nampaknya masih banyak belajar mengatur perilaku apabila tinggal bersama orang lain.
Apalagi dengan peraturan rumah yang berbeda dibandingkan di rumah sendiri.
Apsaras, sang bidadari, terbang juga mengejar mimpinya.
Beruntung dapat tinggal di pakdenya, lagi-lagi tidak perlu mengeluarkan biaya akomodasi.
Tinggal di rumah dengan 3 keluarga, pakde-bude, pasangan sepupu dan 2 anak laki2 dan pasangan
sepupu lain dengan 2 anak kembar perempuan.
Ditambah 2 atau 3 pembantu.
Harus pandai menempatkan diri.
Harus mempunyai indra ke enam setengah, untuk menyadari bahwa sedang ada argumen yang tak
selesai diantara penghuni rumah.
Tinggallah kami di sini.
Pagi dan malam, dimeja makan, sedikit yang disiapkan.
Siang, makan di kantor masing-masing.
Hari-hari terasa lengang.
Apa yang akan kami perbuat ?
Tiba-tiba ada ide.
Bagaimana kalau jalan-jalan.
Wisata ?
Berdua saja ?
Dua tempat sudah direncanakan.
Minggu depan dan pertengahan Juli.
Belum pernah seringan ini akan bepergian.
Biasanya merencanakan dengan matang, apa yang perlu disiapkan kalau meninggalkan anak-anak di rumah.
Dari mulai menu harian, belanja harian, siapa yang harus dikontak kalau ada apa-apa.
Time for us.
Duapuluhlima tahun ....
Baru sekarang merasakan akan jalan-jalan dengan ringan.
Saturday, June 20, 2009
Friday, June 12, 2009
nama dan do'a
saya, maka saya ingin juga menulis artikel
yang berkaitan dengan nama saya.
Kami lima bersaudara, masing-masing diberi
nama oleh ayah kami dengan tiga suku kata.
Pada suatu hari saya menemukan semacam
syair lagu dalam bahasa Jawa (dandang
gula) diciptakan oleh ayah saya.
Secara singkat dan sepemahaman saya, yang
minim tentang kosa-kata bahasa Jawa.
Syair tersebut menceritakan detik
kelahiran saya, tanggal bulan tahun jam.
Juga kekhawatiran dan perjuangan ibu
menanti saya yang tak kunjung lahir.
Kecemasan kedua orangtua yang merasa
sendirian karena jauh dari kerabat.
Saya memang lahir di perantauan,
sesuai dengan tempat tugas ayah saya.
Juga harapan ayah saya, agar saya menjadi
anak yang berperilaku halus dan luhur.
Mengikuti jejak ibu saya dan menjunjung
kesusilaan.
Di akhir "dandang gula" tersebut, ada
kalimat terakhir yang mengharukan, bahwa
beliau tidak putus mendo'akan saya.
Sangat indah syair tersebut.
Saya sendiri lupa, dimana saya menemukan syair yang ditulis tangan dengan begitu halus.
Dalam perjalanan hidup saya, nama saya sering dikira nama laki-laki.
Padahal saya perempuan asli.
Apalagi karena profesi saya juga dibidang keteknikan yang sebagian besar laki-laki.
Wajar saja, kalau dalam suatu kesempatan, saya ber-sms ria dengan anggota tim dalam salahsatu proyek.
Ketika akhirnya bertemu di kantor, beliau sangat terkejut, bahwa saya seorang ibu.
Pernah ketika saya tes kesehatan PNS, nama saya ditulis tangan oleh petugas dengan tidak jelas.
Sehingga saya dipanggil Tn.Wahyu (=tuan Wahyu).
Operator Radiologi terkejut, ketika yang muncul saya dengan perut besar, karena hamil anak ke-2.
Di lingkungan RT, saya mendapat nama baru, ikut nama suami saya.
Ketika anak saya SD, saya mendapat nama lain lagi, menjadi mama Widi.
Di antara keluarga, teman sekolah dan murid piano, mereka memanggil Hani atau bu Hani.
Di kantor, kampus atau urusan formal, bu Tri.
Jadi, apabila ada yang telfon ke rumah, menyebut salah satu nama di atas,
saya sudah bisa mengira si penelfon dari kelompok yang mana.
Arti atau makna nama saya, saya hanya mengira-ngira saja.
Tri, yaaah, karena saya anak ke-3.
Wahyu, apa yaaa artinya, mungkin kekuatan atau semangat.
Handayani, saya cuma ingat "tut wuri handayani" = mendorong dari belakang.
Sementara nama panggilan "hani".
Bisa saya plesetkan menjadi "honey".
Sebuah panggilan kesayangan atau bisa juga madu.
Akhirnya menginspirasikan, bahwa madu adalah lebah = bee.
Lebah menurut saya mahluk yang sangat rajin.
Apakah lalu, saya menjadi pendorong semangat, ke-3 anggota keluarga saya ?
Mungkin saja.
Apakah karena nama tersebut, lalu saya bekerja di Dik Nas, yang logonya "tut wuri handayani" ?
Mungkin juga.
Yang pasti, saya senang dengan nama saya.
Saya percaya, nama saya mengandung do'a dan harapan.
Seperti do'a dan harapan ayah saya.
Sunday, June 07, 2009
"spiderman" capek
Murid baru, seorang anak laki-laki usia 4 tahun.
Pertemuan pertama, sang anak tidak mau masuk kelas
tanpa didampingi oleh ayahnya.
Terpaksa sang ayah duduk satu bangku dengan sang anak.
Menurut sang ayah, putranya gemar dengan tokoh kepahlawanan seperti
Batman, Superman, Spiderman, Power Ranger dll.
Pertemuan kedua, ganti, sang bunda yang menemani di dalam kelas.
Minggu ke tiga, belajar berdua saja dengan guru.
Setelah sekian menit pelajaran......
Murid : "Capek, aku mau bobo"
Guru : "Ah, nggak capek, kan Spiderman. Spiderman kuat...."
Murid : "Bukan, aku bukan Spiderman".
Guru : "Ya sudah, Superman...."
Murid : "Bukan.....".
Guru : "Batman".
Murid : "Bukan.....".
Guru : "Power Ranger".
Murid : "Bukan.....aku R****n (dia menyebut namanya sendiri ).
Capek, mau bobo .....".
Guru : "Sebentar lagi.... capeknya di suruh pergi dulu...."
Murid : "Gak bisa .... ada di dalam sini ... ( sambil menunjuk dadanya ).
Guru : "**** (speechless)....
( Wah, harus ganti nih, bukan membujuk tapi memotivasi )
Guru (dengan suara direndahkan dan ada "tekanan") :
"Ayo ah...capeknya dilawan. Kan jagoan, harus kuat !!!!".
Akhirnya murid menurut untuk melajar 15 menit lagi.
Pertemuan pertama, sang anak tidak mau masuk kelas
tanpa didampingi oleh ayahnya.
Terpaksa sang ayah duduk satu bangku dengan sang anak.
Menurut sang ayah, putranya gemar dengan tokoh kepahlawanan seperti
Batman, Superman, Spiderman, Power Ranger dll.
Pertemuan kedua, ganti, sang bunda yang menemani di dalam kelas.
Minggu ke tiga, belajar berdua saja dengan guru.
Setelah sekian menit pelajaran......
Murid : "Capek, aku mau bobo"
Guru : "Ah, nggak capek, kan Spiderman. Spiderman kuat...."
Murid : "Bukan, aku bukan Spiderman".
Guru : "Ya sudah, Superman...."
Murid : "Bukan.....".
Guru : "Batman".
Murid : "Bukan.....".
Guru : "Power Ranger".
Murid : "Bukan.....aku R****n (dia menyebut namanya sendiri ).
Capek, mau bobo .....".
Guru : "Sebentar lagi.... capeknya di suruh pergi dulu...."
Murid : "Gak bisa .... ada di dalam sini ... ( sambil menunjuk dadanya ).
Guru : "**** (speechless)....
( Wah, harus ganti nih, bukan membujuk tapi memotivasi )
Guru (dengan suara direndahkan dan ada "tekanan") :
"Ayo ah...capeknya dilawan. Kan jagoan, harus kuat !!!!".
Akhirnya murid menurut untuk melajar 15 menit lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)


