my piano

my piano

Wednesday, February 20, 2008

Jadi Sarjana

Kira-kira akhir tahun 2006 dia mulai menyusun skripsinya.
Ibunya agak cerewet, memintanya membuat jadwal agar bulan Mei 2007 sudah sidang.
Tetapi dia mempunyai irama kerja sendiri, yang berbeda dengan harapan ibunya.
Sambil ikut kursus intensif bahasa Perancis, sesekali dia bimbingan di kampus.
Satu semester berlalu, masih tidak beranjak dari kalimat pertanyaan penelitian,
kerangka penelitian dan bab I.

Berkat informasi dari teman ayahnya di kantor yang lama, sampailah dia ke Jakarta.
Untuk mewancarai Sekretaris I Kedutaan Iran.
Pertanyaan demi pertanyaan yang telah disusun dan disampaikan sebelumnya
melalui e-mail, dipelajari dan dijawab langsung.
Dia sempat dipuji karena kemampuan berbahasa Inggrisnya yang dikira pernah
mengenyam pendidikan di luar negeri.
Padahal kursus bahasa Inggris sampai tingkat Advance hanya di LB-LIA Bandung.
Sering mendapat sindiran sampai teguran keras dari kedua orangtuanya tidak
menyurutkan kegemarannya main game dan futsal bersama teman-temannya.
Atau dengan alasan mencari data ke warnet, selain browsing dan mengunduh data
yang dicari juga mengunduh game-game mutakhir dari website tertentu.

Sampai pada suatu kesempatan, ibunya menanyakan lagi proses penyusunan skripsinya
yang terkesan jalan di tempat.
Walaupun secara substansi ibunya tidak mengerti apa-apa tentang Hubungan Internasional, mungkin secara teknis,
penyusunan kerangka laporan ilmiah dapat ditelusuri permasalahannya yang
sampai menjelang akhir tahun 2007, macet di bab IV.
Akhirnya dia yang semula tertutup, menyerah, bersedia mencetak draft skripsinya,
dari bab I sampai bab IV.
Membuat ibunya, sambil terkantuk-kantuk mempelajarinya bab demi bab.
Bab I, ada yang tumpang tindih. Nampaknya perlu dilengkapi peta lokasi dan kerangka berpikir.
Bab II, antara bab dan sub bab perlu ditata kembali.
Bab III, sulit memahami struktur penyusunan dan substansi bab dan sub babnya,
yang memang berbeda bidang keilmuan dengan yang membacanya.
Bab IV, masih belum lengkap susunan bab dan sub babnya.
Setelah mendapat sedikit komentar dan masukan dari ibunya, ternyata dia semakin terbuka.
Dia mau berdiskusi dengan ayahnya, terutama metoda penelitian dan tabulasi data-data.
Dan setelah bermalam tahun-baru di Jakarta dan bersilaturahmi dari satu kerabat ke
kerabat lain, dia melanjutkan penyusunan skripsinya.

Akhir Januari dia menghadap ke pembimbingnya yang sangat sibuk, seorang gurubesar
dan menjabat sebagai Pembantu Rektor IV di kampus.
Dia utarakan juga keinginannya untuk segera menyelesaikan skripsinya.
Setelah mendapat masukan dan menstrukturkan kembali susunan bab-babnya,
dia menjadi sangat bersemangat.
Tiada hari tanpa dia menulis dan bekerja di depan komputer.
Dia mau membiarkan orangtuanya untuk mempelajari Kesimpulan dan Abstraknya.
Walaupun sedikit terlambat, sehingga tidak bisa ikut Wisuda di bulan Maret,
dia dijadwalkan untuk Sidang Sarjana tanggal 8 Februari 2008.
Jadwal sesungguhnya baru diperoleh 2 hari sebelum sidang.
Beruntung dia mempunyai orangtua yang mempunyai pengalaman dalam teknik presentasi.
Sehingga penyusunan Powerpoint sudah dilakukan sejak seminggu sebelumnya dan
dilengkapi lagi, malam menjelang sidang.
Pagi hari sesudah sarapan, masih ada kesempatan untuk simulasi.
Dia melakukan simulasi skripsinya yang berjudul :
"Peranan Rusia Dalam Program Intensif Nuklir Iran"
dengan barpakaian lengkap, laiknya sidang sesungguhnya. Jas, dasi dan sepatu.
Ibunya sudah berpesan agar memakai sepatu yang nyaman.
Tidak soal warnanya berbeda atau tidak cocok dengan jasnya,
tidak soal jas hitam sepatu coklat.
Daripada memakai sepatu berwarna sesuai, tetapi memecahkan konsentrasinya.
Sepanjang perjalanan ke kampus, dia berbicara sendiri,
seolah-olah membawakan materi sidang.
Ibunya menunggu di kantor, waktu serasa sebentar, tidak sampai 1 jam,
dia sudah meng-sms, bahwa sudah beres, masih ada satu peserta sidang lagi,
sesudah itu yudicium.
Taklama ada sms berikutnya : Dapat A, 80.75. Kapan dijemput ?

Akhirnya dia, anakku jadi sarjana. Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah,
telah mengabulkan do'a-do'aku.
Semoga dia bisa mengamalkan ilmunya dan bisa mandiri mengisi kehidupannya kelak.
Karena ini baru langkah awal dari kehidupan selanjutnya.

Saturday, February 09, 2008

Tukang Sayur

Aku punya langganan tukang sayur keliling, sepertinya terpelajar.
Komentarnya sering tidak biasa.
Komentar tentang harga tempe : "Pemerintah terlalu tergantung dengan
impor. Kurang menggalakkan sektor pertanian lokal".
Penjelasan tentang udang : "Binatang yang hidup di perairan dalam".
KOmentar tentang pembantuku, yang nawar-nawar : "Si Mbak pandai bernegosiasi".
Istilah untuk pembantu, pembantu = asistent of the house.

Penasaran, aku tanya : "Mang, dulu teh sekolahan ?".
TS : "Iya Bu. STM, SMu juga".
Aku : "STM nya apa ? SMU nya dimana ?".
TS : "Otomotif Bu. SMU nya Taman Siswa. Ibu koq tahu ?".

( Dalam hati, jelas tahu. Mana ada tukang sayur tahu kebijakan pemerintah ?
Kalau bukan tukang sayur yang doyan baca koran. Mana ada tukang sayur yang
baca koran, kalau bukan tukang sayur yang makan sekolahan ? ).

Aku : "Wah, bisa montir dong. Sampai beres STM nya ?"
TS : "Iya Bu. Kursus komputer juga".
Aku : "Kursus komputernya apa ?"
TS : "Aplikasi perkantoran Bu".
Aku : "Wah, bisa Excel dong".
TS : "Iya Bu. Excel bisa, Word, Powerpoint, Internet".
Aku : "Wah, bisa internetan dong".
TS : "He2 .... iya".

Lalu, kenapa jadi tukang sayur ? Belum tanya kenapa tuh.
Karena udah terpana duluan.
Mungkin sama juga halnya aku kali. Magister Arsitektur, ternyata
mengajar piano.
Belum tanya lebih lanjut nih. Apakah sesudah keliling dagang pagi-pagi,
lalu bekerja sebagai montir. Sesudah selesai kerja sebagai montir lalu
internetan di warnet. Jangan-jangan ikutan Friendster dan Yahoo Messenger
juga.