Pada suatu hari di sebuah ATM ( Automatic Teller Machine = Anjungan Tunai Mandiri ) Bank MMMM.
Ada 3 buah ATM, 2 buah anjungan tunai dan 1 buah non tunai.
Beberapa orang antri di tiap-tiap ATM.
Tiba-tiba seorang bapak nampak panik keluar dari salah satu ATM.
"Uangnya nggak keluar. Padahal dilayar ada".
Seorang ibu berbaikhati memanggil Satpam.
Orang-orang tetap berdatangan, antri.
Satpam agak lama baru datang, menunggu di depan ATM yang diduga bermasalah.
Bapak yang tadi keluar dari ATM dan menyampaikan keluhannya.
Satpam masuk. Tidak lama kemudian keluar lagi.
Kata Satpam : "Mau narik dari bank BBBB".
Ooohhh .... padahal ini ATM Bank MMMM.
Dan tidak ada penjelasan kalau ATM ini ATM BERSAMA.
Si Bapak bergegas pergi.
Seorang bapak berbeda, lapor ke Satpam : "Pak, ATM yang tengah koq kartunya
harus tegak dan uangnya tidak keluar ?".
Satpam : "Oh yang tengah itu Non Tunai".
Bapak : "Non Tunai itu apa ?"
Satpam : "Untuk transfer, bayar rekening dan lain-lain".
Bapak : "Oohhhh........"
Pak Satpam ternyata merangkap menjadi Costumer Service handal.
Tuesday, April 22, 2008
Arisan
Di masa kuliah dulu, kami satu jurusan dan sehimpunan ada 75 orang, 14 orang diantaranya perempuan.
Teman sejurusan dan sehimpunan maksudnya, kami masuk ke jurusan yang sama di tahun yang sama.
Karena ada juga teman seangkatan, tahun masuknya sama kemungkinan berbeda jurusan.
Reuni demi reuni dilalui.
Komunikasi tetap berjalan melalui milis himpunan yang dibuat oleh salah satu teman kami.
Saling mengucapkan selamat .... ulang tahun, anniversary, anak masuk sekolah - kuliah, anak lulus, anak menikah, dapat cucu ( lhooo udah tua yaaa ), berangkat - pulang haji, sembuh sakit ....
Saling mengucapkan simpati .... sakit atau meninggal - ibu - ayah - mertua - suami - anak, atau teman sendiri karena diantara kami ada 3 orang yang sudah mendahului pulang ke tempat Abadi.......
Saling berdiskusi, kadang-kadang memaki .....
Saling bercanda ....
Saling mengingatkan .... terutama masalah kesehatan
Milis mendekatkan hati kami.
Tiba-tiba, 3 minggu yang lalu ada ide untuk membentuk kelompok arisan.
Ide awal adalah (X) rupiah.
Lalu, satu demi satu mendaftar dan menyatakan setuju.
Tercatat, ada 30an peserta, 10 diantaranya perempuan, dan masih bertambah lagi satu demi satu.
Ternyata dari teman-teman ada beberapa ide tatacara arisan yang baru saya ketahui melalui milis angkatan ini.
1.Arisan tanpa "bandar". Buku arisan dipegang oleh yang menang/tarik arisan, dengan catatan yang bisa menang/tarik adalah yang hadir.
Kalau ada yang belum bayar, akan ditagih oleh pemenang, melalui sms dan kemudian ditransfer.
2.Karena pesertanya banyak, maka ada usulan, peserta yang mendapat giliran menarik ada beberapa orang, mungkin 2 atau 3 orang.
3.Lalu ada ada usul iuran arisan dinaikkan menjadi 6 (X) rupiah, supaya nilainya lebih banyak.
Harga 6 (X) tadi ditentukan menjadi harga "Basic". Tapi, tidak tertutup kemungkinan kalau diantara kami tetap ingin ikut seharga (X) atau 2(X) dst.
4.Kemudian ada usulan lain supaya perioda arisan berlangsung sepuluh kali putaran saja, maka perhitungannya seperti ini :
Contoh :
"Arisan pertama anggota 27 tp yg bayar mungkin baru 22 x 50... yang dapet 2 orang @ 500rb + sisa dana 2x50rb
Arisan kedua anggotanya nambah misalnya jadi 28 orang... tapi yang bayar cuma 25 x 50... yg dpt 2 org lagi + sisa dana 5x50rb
Arisan ketiga, anggota nambah jadi 30.. siapa takut? nambah terus kan makin bagus...
yg bayar misalnya 26 x50 + sisa arisan pertama & kedua yang 7x50 jadinya kan 33 x 50.. yang dapet bisa 3 orang dst
Kalau sudah arisan ketiga, keanggotaan bisa ditutup (kl arisan ke-4 msh ada yg mo gabung, kan msti langsung bayar 4x50, kagok banget jdnya)
Jumlah penerima arisan selanjutnya mungkin bisa berkisar antara 3 smp 5 orang, tergantung dana yang masuk
Enaknya pake cara gini, fleksibel.. terhadap jumlah anggota dan dana yang masuk
(dg catatan urusan tagih-menagih oleh yg dapet arisan ke yang belum bayar tetep harus dijalankan... )"
Jujur saja, penjelasan butir (4) oleh salah seorang teman membuat saya pusing tujuh keliling.
Bagaimana bisa .... arisan menjadi begini rumit ?
Selama ini, sepanjang hidup, saya hanya ikut satu arisan, yaitu arisan ibu-ibu RT, 20 ribuan tiap bulannya.
Yang saya jarang datang dan sudah 3 bulan ini menunggak.
Kalau saya menang, dan bulan depannya saya yang menerima pertemuan arisan di rumah saya, istilahnya "ketempatan", saya memperoleh biaya penggantian konsumsi sebanyak 22ribu.
Padahal dengan 20 orang ibu-ibu yang ikut arisan, walaupun yang hadir paling banyak 8 orang ibu, rasanya 22ribu tidak cukup sebagai pengganti konsumsi.
Tak soal, karena tujuaannya adalah silaturahmi antara tetangga.
Kalau tidak, kami tidak saling mengenal satu sama lain.
Kembali ke arisan teman himpunan ini, yang cukup mengejutkan, ternyata justru temen pria yang bersemangat mendaftar menjadi peserta arisan.
Dengan keikutsertaan teman-teman yang berbeda nilai rupiahnya, saya kurang yakin apakah masih bisa tertib, kalau sistem tidak ada "bandar" tetap dipilih.
Jangan-jangan kami harus membuatnya dengan tabel spreadsheet memakai program Excel. Bisa jadi, tagihan dan pembayarannya melalui Hallo Banking atau Internet Banking.
Tidak sesederhana arisan ibu-ibu RT, cukup dengan buku tulis SD yang diberi lajur-lajur.
Sampai hari ini masih didata, siapa saja yang betul-betul akan ikut arisan.
Padahal tidak semua teman himpunan ini ikut milis. Jadi komunikasi melalui telpon rumah dan HP saja.
Padahal dari 30an peserta, kami ini tersebar dari Jakarta, Bogor, Depok, Bandung, Malang, DenPasar, Manado, Makassar, Johor, Manila, Perth, Paris ........
Milis memang menghilangkan jarak diantara kami.
Teman sejurusan dan sehimpunan maksudnya, kami masuk ke jurusan yang sama di tahun yang sama.
Karena ada juga teman seangkatan, tahun masuknya sama kemungkinan berbeda jurusan.
Reuni demi reuni dilalui.
Komunikasi tetap berjalan melalui milis himpunan yang dibuat oleh salah satu teman kami.
Saling mengucapkan selamat .... ulang tahun, anniversary, anak masuk sekolah - kuliah, anak lulus, anak menikah, dapat cucu ( lhooo udah tua yaaa ), berangkat - pulang haji, sembuh sakit ....
Saling mengucapkan simpati .... sakit atau meninggal - ibu - ayah - mertua - suami - anak, atau teman sendiri karena diantara kami ada 3 orang yang sudah mendahului pulang ke tempat Abadi.......
Saling berdiskusi, kadang-kadang memaki .....
Saling bercanda ....
Saling mengingatkan .... terutama masalah kesehatan
Milis mendekatkan hati kami.
Tiba-tiba, 3 minggu yang lalu ada ide untuk membentuk kelompok arisan.
Ide awal adalah (X) rupiah.
Lalu, satu demi satu mendaftar dan menyatakan setuju.
Tercatat, ada 30an peserta, 10 diantaranya perempuan, dan masih bertambah lagi satu demi satu.
Ternyata dari teman-teman ada beberapa ide tatacara arisan yang baru saya ketahui melalui milis angkatan ini.
1.Arisan tanpa "bandar". Buku arisan dipegang oleh yang menang/tarik arisan, dengan catatan yang bisa menang/tarik adalah yang hadir.
Kalau ada yang belum bayar, akan ditagih oleh pemenang, melalui sms dan kemudian ditransfer.
2.Karena pesertanya banyak, maka ada usulan, peserta yang mendapat giliran menarik ada beberapa orang, mungkin 2 atau 3 orang.
3.Lalu ada ada usul iuran arisan dinaikkan menjadi 6 (X) rupiah, supaya nilainya lebih banyak.
Harga 6 (X) tadi ditentukan menjadi harga "Basic". Tapi, tidak tertutup kemungkinan kalau diantara kami tetap ingin ikut seharga (X) atau 2(X) dst.
4.Kemudian ada usulan lain supaya perioda arisan berlangsung sepuluh kali putaran saja, maka perhitungannya seperti ini :
Contoh :
"Arisan pertama anggota 27 tp yg bayar mungkin baru 22 x 50... yang dapet 2 orang @ 500rb + sisa dana 2x50rb
Arisan kedua anggotanya nambah misalnya jadi 28 orang... tapi yang bayar cuma 25 x 50... yg dpt 2 org lagi + sisa dana 5x50rb
Arisan ketiga, anggota nambah jadi 30.. siapa takut? nambah terus kan makin bagus...
yg bayar misalnya 26 x50 + sisa arisan pertama & kedua yang 7x50 jadinya kan 33 x 50.. yang dapet bisa 3 orang dst
Kalau sudah arisan ketiga, keanggotaan bisa ditutup (kl arisan ke-4 msh ada yg mo gabung, kan msti langsung bayar 4x50, kagok banget jdnya)
Jumlah penerima arisan selanjutnya mungkin bisa berkisar antara 3 smp 5 orang, tergantung dana yang masuk
Enaknya pake cara gini, fleksibel.. terhadap jumlah anggota dan dana yang masuk
(dg catatan urusan tagih-menagih oleh yg dapet arisan ke yang belum bayar tetep harus dijalankan... )"
Jujur saja, penjelasan butir (4) oleh salah seorang teman membuat saya pusing tujuh keliling.
Bagaimana bisa .... arisan menjadi begini rumit ?
Selama ini, sepanjang hidup, saya hanya ikut satu arisan, yaitu arisan ibu-ibu RT, 20 ribuan tiap bulannya.
Yang saya jarang datang dan sudah 3 bulan ini menunggak.
Kalau saya menang, dan bulan depannya saya yang menerima pertemuan arisan di rumah saya, istilahnya "ketempatan", saya memperoleh biaya penggantian konsumsi sebanyak 22ribu.
Padahal dengan 20 orang ibu-ibu yang ikut arisan, walaupun yang hadir paling banyak 8 orang ibu, rasanya 22ribu tidak cukup sebagai pengganti konsumsi.
Tak soal, karena tujuaannya adalah silaturahmi antara tetangga.
Kalau tidak, kami tidak saling mengenal satu sama lain.
Kembali ke arisan teman himpunan ini, yang cukup mengejutkan, ternyata justru temen pria yang bersemangat mendaftar menjadi peserta arisan.
Dengan keikutsertaan teman-teman yang berbeda nilai rupiahnya, saya kurang yakin apakah masih bisa tertib, kalau sistem tidak ada "bandar" tetap dipilih.
Jangan-jangan kami harus membuatnya dengan tabel spreadsheet memakai program Excel. Bisa jadi, tagihan dan pembayarannya melalui Hallo Banking atau Internet Banking.
Tidak sesederhana arisan ibu-ibu RT, cukup dengan buku tulis SD yang diberi lajur-lajur.
Sampai hari ini masih didata, siapa saja yang betul-betul akan ikut arisan.
Padahal tidak semua teman himpunan ini ikut milis. Jadi komunikasi melalui telpon rumah dan HP saja.
Padahal dari 30an peserta, kami ini tersebar dari Jakarta, Bogor, Depok, Bandung, Malang, DenPasar, Manado, Makassar, Johor, Manila, Perth, Paris ........
Milis memang menghilangkan jarak diantara kami.
Label:
me
Wednesday, April 16, 2008
Happy Birthday
14 April 2008, sms berturut-turut :
"Met ultah ya. Wadoh. Umur mantap. Tp jiwa muda dong! Sehat terus ya".
"AssWW ....slamt ultah 14 Aprl....tambah sukses, slalu dalm lindungn Allah SWT dan tetap dpt istiqomah dlm mncari k ridloannya. Amien".
"....Selamat ulang tahun ... semoga Allah melimpahkan umur yg barokah ...
rizki yang lapang ... kesehatan yg sempurna ... kebahagiaan dunia & akhirat ...
aamin".
"Kel Pd Bambu olus anak2 cucu2 mengucapkan selamat hari ulang tahun. Semoga terkabul semua cita2".
"Ass ww. Slamat ulang thn. Smoga slalu sehat, bahagia & tetap cantik. Amin".
"Ass.W.w.Neng met ultah ya, smg berkah dan rahmat dilimpahkan buat kamu".
Sarapan pagi mendapat ucapan selamat dan peluk cium hangat dari seluruh
anggota keluarga.
Tak lupa sebuah "kartu tradisi ulangtahun" yang selalu digambar oleh Apsarasapsari. Sebuah kartu bergambar angka umur, 3 lebah mengelilingi stoples penuh madu bertuliskan "Hunny".
Senangnya ...
Anggap saja, madu itu adalah saya ( hani = honey = hunny di kartun Winnie the Pooh ), dan lebah-lebah itu adalah seluruh anggota keluarga saya.
Lalu telpon dari ibu di Jakarta. Mengucapkan Selamat disertai do'a, agar menjadi keluarga sakinah ma wardah wa rahmah, sehat, sabar ........
Menyusul 15 April 2008 :
"Bu Hani, pagi apakbr ? Happy b'day yah ...smg sukses n sehat sll !"
"Hai, apkbr ? Selamat ultah ya ...Smoga selalu diberi kesehatan, kbahagiaan,
dan perlindungan-Nya. Amien ... sori, sibuk ngatur jdw, malah yg ultah jd
kelewatan !"
Istirahat makan siang di kampus, tiba-tiba bu Wanita berkata : "Oh iyaaaa,
kemarin bu Hani ulang tahun. Selamat ya".
Rasanya tidak ada yang lebih berharga dari apapun, disaat usia merayap
bertambah dan kemungkinan besar jatah hidup di dunia menjadi berkurang,
ternyata masih mempunyai teman-teman yang masih ingat kita.
Terimakasih Tatah, bu Inne, bu Dewi, mbak Renny sekeluarga, Lies, Ibeth,
Bapak, mas Widi, Diani, Mamah, Yuni, bu Endang, bu Ita, bu Dini, pak Denny, Salmon.
Terimakasih semuanya atas do'anya.
"Met ultah ya. Wadoh. Umur mantap. Tp jiwa muda dong! Sehat terus ya".
"AssWW ....slamt ultah 14 Aprl....tambah sukses, slalu dalm lindungn Allah SWT dan tetap dpt istiqomah dlm mncari k ridloannya. Amien".
"....Selamat ulang tahun ... semoga Allah melimpahkan umur yg barokah ...
rizki yang lapang ... kesehatan yg sempurna ... kebahagiaan dunia & akhirat ...
aamin".
"Kel Pd Bambu olus anak2 cucu2 mengucapkan selamat hari ulang tahun. Semoga terkabul semua cita2".
"Ass ww. Slamat ulang thn. Smoga slalu sehat, bahagia & tetap cantik. Amin".
"Ass.W.w.Neng met ultah ya, smg berkah dan rahmat dilimpahkan buat kamu".
Sarapan pagi mendapat ucapan selamat dan peluk cium hangat dari seluruh
anggota keluarga.
Tak lupa sebuah "kartu tradisi ulangtahun" yang selalu digambar oleh Apsarasapsari. Sebuah kartu bergambar angka umur, 3 lebah mengelilingi stoples penuh madu bertuliskan "Hunny".
Senangnya ...
Anggap saja, madu itu adalah saya ( hani = honey = hunny di kartun Winnie the Pooh ), dan lebah-lebah itu adalah seluruh anggota keluarga saya.
Lalu telpon dari ibu di Jakarta. Mengucapkan Selamat disertai do'a, agar menjadi keluarga sakinah ma wardah wa rahmah, sehat, sabar ........
Menyusul 15 April 2008 :
"Bu Hani, pagi apakbr ? Happy b'day yah ...smg sukses n sehat sll !"
"Hai, apkbr ? Selamat ultah ya ...Smoga selalu diberi kesehatan, kbahagiaan,
dan perlindungan-Nya. Amien ... sori, sibuk ngatur jdw, malah yg ultah jd
kelewatan !"
Istirahat makan siang di kampus, tiba-tiba bu Wanita berkata : "Oh iyaaaa,
kemarin bu Hani ulang tahun. Selamat ya".
Rasanya tidak ada yang lebih berharga dari apapun, disaat usia merayap
bertambah dan kemungkinan besar jatah hidup di dunia menjadi berkurang,
ternyata masih mempunyai teman-teman yang masih ingat kita.
Terimakasih Tatah, bu Inne, bu Dewi, mbak Renny sekeluarga, Lies, Ibeth,
Bapak, mas Widi, Diani, Mamah, Yuni, bu Endang, bu Ita, bu Dini, pak Denny, Salmon.
Terimakasih semuanya atas do'anya.
Label:
me
Monday, April 14, 2008
Pilkada
"Ceuk DA'I, lamun hoyong AMAN, pilih nu HADE".Kalimat hereuy ( = canda, bhs. Sunda ) ini disampaikan oleh salah seorang dosen di kampus menjelang pemilihan Gubernur Jawa Barat yang dilangsungkan tanggal 13 April 2008.
Calon Gubernur dan Wakilnya sesuai dengan urutan adalah Danny Setiawan - Iwan Sulandjana yang disingkat menjadi DA'I
mendapat nomor urut 1.
Lalu pasangan Agum Gumelar - Nu'man Abdul Hakim yang disingkat AMAN mendapat nomor urut 2 dan terakhir Ahmad Heryawan - Dede Yusuf, disingkat HADE, mandapat nomor urut ke-3.Hade dalam bahasa Sunda artinya bagus atau baik.
Jadi maksud kalimat di atas, "Kata da'i, kalau ingin aman, pilih yang baik".
Atau ada spanduk yang menuliskan 1 + 2 = 3.
Atau diantara keramaian lalu-lintas melaju mobil hitam berlambang nomor urut peserta 2 atau bis bernomor urut peserta 1, tidak kalah gaya melintas mobil hitam lain berplat nomor D 3 HD.
Ramai-ramai Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di hampir seluruh daerah di Indonesia yang sering diakhiri dengan ketidakpuasan pendukung yang tidak menang, mudah-mudahan tidak terjadi di Jawa Barat.
Sebagai propinsi terbesar di Indonesia apabila hasil Pilkada ternyata dapat diterima oleh semua pihak, maka merupakan kemenangan tersendiri bagi Jawa Barat.
Data Quick-count tanggal 13 April 2008, jam 16.00, adalah sebagai berikut :
1. 25,08 %
2. 35,46 %
3. 39,46 %
Jadi, kata da'i juga, kalau ingin aman, pilih yang baik.
Tuesday, April 08, 2008
Bursa Kue
Kesibukan tersebut adalah ajang jual-beli kue basah, jajan pasar, roti dan penganan kecil lainnya.
Harganya murah-meriah, rasanya tak kalah dengan kue-kue yang dijual di toko kue terkenal.
Bermacam-macam jenis kue basah ada disini, dengan harga antara 600 - 1000
Misalnya aneka kue sus, ada yang isi vla, atau isi cream. Ada sus coklat, maksudnya disini, kulit susnya berwarna coklat dan diisi cream.
Ada pula jenis sus yang dilapis dengan coklat leleh dan ditaburi gula warna-warni.
Atau, eclair, sus berbentuk panjang.
Bikang ambon, kesukaan suami, dapat dijumpai berbentuk bulat, atau irisan kotak kecil.
Ada juga bukang ambon bulat diameter 10 cm atau bahkan satu loyang besar ukuran 22 cm.
Lemper, kesukaan Darudarou ? Ada isi ayam atau lemper bakar.
Tak ketinggalan lumpia goreng isi kentang kegemaran Apsarasapsari.
Kue lapis, bisa pilih lapis coklat atau lapis rasa pandan.
Jangan lupa, kue klepon kegemaran saya.
Bolu kukus, aneka bentuk dan rasa. Yang harganya rata-rata 500 rupiah.
Belum lagi pastel isi, roti goreng, risoles dan martabak mini.
Aneka puding, aneka bentuk dan warna, merupakan salah satu pilihan jajanan yang
menyegarkan.
Selain jajanan tradisional, dijajakan juga roti-roti ala Bread Talk, sebagai pilihan sarapan pagi.
Bisa dipilih roti abon yang terkenal itu, roti buaya, roti isi keju - isi sosis - isi daging - isi coklat dan lain-lain.
Atau makaroni panggang dalam loyang kecil, masih bisa disimpan untuk makan siang sekalian.
Belum kenyang ? Masih ada nasi pepes isi jamur-telur ayam-jambal seharga 4000ribuan
atau nasi bakar berupa nasi tutug oncom plus ikan asin dengan harga sama.
Masing-masing penjual kue, menjajakan jenis-jenis tertentu saja.
Misalnya seorang penjual kue, dia menjual jenis sus, roti goreng dan lumpia
goreng saja. Yang lainnya, kue lapis, lemper basah dan bikang ambon saja.
Atau ada yang khusus bikang ambon aneka bentuk dengan warna dan kelembutan yang
berbeda. Sementara penjual yang lain, ada yang khusus hanya menjual pastel, risoles atau brownis saja.
Begitu pula, penjual roti, menempati lapak tersendiri.
Cara menjajakannya, sebagian penjual duduk diteras supermarket dan menawarkan
kue-kuenya dalan wadah-wadah plastik khusus ukuran 20 X 40 cm.
Beberapa pedagang lainnya, menempatkan barang dagangannya dalam bak mobil
terbuka. Atau di bagian belakang mobil mini bus. Bahkan ada juga di bagasi belakang mobil sedan.
Hanya sedikit saja yang berjualan dengan mobil khusus untuk jualan makanan.
Bingung sarapan pagi ? Atau kerabat mau singgah siang nanti ? Bahkan arisan
sore hari ?
Datang saja ke jalan Buah Batu didepan supermarket Hero, pagi-pagi.
.....gendang gendut tali kecapi,
kenyang perut senanglah hati.
( dari Gurindam Duabelas - Raja Ali Haji )
kenyang perut senanglah hati.
( dari Gurindam Duabelas - Raja Ali Haji )
Tuesday, April 01, 2008
Guru + Murid = Partner
Tiba-tiba HP saya berbunyi tanda ada sms masuk.Tertulis : "Bu, kapan kita latihan duet lagi ?"
Pesan singkat tersebut berasal dari Bellia, salah seorang murid
piano saya.
Bellia boleh dikatakan murid pertama dan terlama saya.
Dia belajar piano pertama kali sejak kelas 5 SD dan sekarang sudah
mahasiswa tingkat I.
Walaupun dia sudah tidak menjadi murid saya lagi, tapi diajar langsung
oleh ibu Indra, pemilik sekolah musik tempat saya mengajar, hubungan
saya dan Bellia tetap baik.
Apalagi Bellia sekarang juga menjadi guru magang.
Saya memang pernah mengajaknya untuk mencoba komposisi karya W.A.Mozart -
Sonata in D major - K.448.
Sebuah komposisi yang diciptakan untuk dua piano.
Ternyata Bellia sangat semangat dan sering mengajak saya untuk mencoba
latihan bersama. Bellia memainkan Piano 1, sedangkan saya Piano 2.
Beberapa kali memang saya sering mengajak sesama guru untuk mencoba
komposisi duet, tapi lebih sering komposisi 4 tangan untuk 1 piano
( four hands for 1 piano ).
Kalau komposisi untuk 2 piano, selain partiturnya lebih sedikit, untuk
berlatih bersama tentunya membutuhkan 2 piano dengan tune ( suara ) yang
betul-betul sama nadanya.
Jawaban saya : "Rabu pagi jam 9.00 bisa nggak ? Jam 10 saya harus ke kampus".
Bellia : "OK".
Wah, saya yang memutuskan, saya yang kelabakan sendiri.
Berarti saya harus latihan. Padahal kalau sudah sampai rumah, berarti
urusan rumah-tangga menunggu. Latihan piano menjadi bagian nomor ke
sekian dari semua urusan yang satu persatu harus diselesaikan.
Tiga malam saya latihan, ada bagian-bagian sulit, saya menyebutnya
"tiga bar itu", dimana tangan kiri kromatik, tangan kanan sinkope.
Terakhir latihan bersama, telinga saya terpengaruh oleh Piano 1, sehingga
saya kacau balau sendiri dan salah main.
Rabu pagi sesuai perjanjian, kami akan berlatih di sekolah musik, biasanya
kami latihan di showroom. Kebetulan sekolah musik tempat kami mengajar juga
menjual piano.
"Seberapa Bu ?"
Maksud Bellia adalah, tempo ketukannya seberapa cepat.
"Segini ?" Sambil saya mengucapkan satu-dua-tiga-empat,untuk Tempo Allegronya.
Bar demi bar lancar. Ada yang berhenti, kemudian setelah ketukan ke-4
diulang lagi. Terutama mendengarkan dinamika, kapan bagian Bellia yang
suaranya lebih keras, kapan bagian saya yang dominan.
Bagian "keramat", si 3 bar itu, di bagian A (Exposition), aman, saya tidak
terpengaruh Piano 1. Tapi di bagian B (Development), saya kacau balau lagi.
Wah, gawat .... penjariannya kacau, jadi terbawa kacau.
Saya berhenti sesaat, untuk pada bar-bar berikutnya saya menyamakan lagi
permainan Bellia.
Sulitnya kalau bermain duet.
Pertama tidak boleh salah baca.
Ketukan atau menghitung harus akurat, tidak boleh susul menyusul.
Kalau salah pantang diulang, harus segera mengejar permainan partner dan
masuk lagi untuk main bersama kembali.
Biasanya kalau bermain duet untuk 1 piano, saya memainkan bagian Secondo,
jadi lebih banyak berfungsi sebagai pengiring.
Sedangkan komposisi 2 piano, kekuatannya sama.
Dinamika harus betul-betul kompak.
Jujur saja, Bellia bermain lebih baik daripada saya.
Bahkan menurut ibu Indra yang pernah mendengarkan kami berlatih, power
Bellia lebih baik daripada saya. Menurut beliau karena Bellia masih muda.
Ha..ha.. saya maklum saja, karena memang Bellia beberapa dekade lebih muda
daripada saya.
Apapun komentar pendengar, dan memang harus dikomentari, karena kami bermain
untuk didengarkan ...... saya senang berlatih dengan Bellia.
Dulu murid, sekarang partner .... yang membuat saya punya target untuk latihan.
Monday, March 24, 2008
Baby Bath
Biasanya ibu-ibu yang baru melahirkan takut memandikan bayi-bayi yang baru lahir dan masih merah tadi.
Tapi, saya tidak.
Ritual memandikan mereka sungguh mengasyikkan.
Mula-mula siapkan minyak bayi, sabun, sampo, handuk kecil, handuk
besar, air hangat dan ..... ember bayi yang besar.
Cukup celupkan siku atau telapak tangan ke air hangat tersebut.
Mula-mula bayi dilap mukanya. Lalu disampo kepala dan disabuni tubuhnya.
Sesudahnya baru dibasuh di ember besar khusus untuk memandikan bayi.
Kuncinya agar bayi marasa nyaman pada waktu dimandikan, posisinya harus agak
ditidurkan, dan tangan kiri kita harus kuat dan kokoh menahan tubuh bayi.
Tidak ada bayi yang tidak suka mandi.
Konon, mereka merasakan sensasi seperti di dalam perut ibu.
Memandikan bayi dengan cara agak ditidurkan dalam ember besar ternyata
hanya beberapa bulan saja.
Begitu mereka bisa duduk sendiri, maka kita dapat memandikannya dalam posisi duduk.
Lalu guyur dengan lembut mulai dari kepala mereka.
Biasanya mereka akan mencecap air hangat tadi dengan sukacita.
Bayi yang sudah bisa berdiri dapat langsung dimandikan dengan posisi
berdiri di kamar mandi.
Ember besar tidak diperlukan lagi, sehingga mengurangi kesibukan kita
mempersiapkan ritual mandi.
Bagaimana dengan keramas ?
Memang agak repot, kita harus siap juga berbasah ria.
Bayi tidak mungkin diminta menundukkan kepala atau sebaliknya tengadah -
posisi seperti mencuci rambut di salon.
Biasanya bayi saya tidurkan dipangkuan saya, lalu mencuci rambutnya seperti posisi di salon. Setelah bersih barulah saya memandikannya.
Pakailah alas karet agar kamar mandi tidak licin.
Sehingga bayi bahkan kita tidak terpeleset.
Terakhir kali saya memandikan bayi, adalah kira-kira 19 tahun y.l.
Tapi, hari Rabu dan Kamis y.l. merupakan hari-hari mengasyikkan, dimana saya memandikan bayi-bayi lagi.
Hari Rabu saya memandikan Senja, dan hari Kamis saya memandikan Pelangi, dua-duanya cucu kakak saya.
Byur-byur-kecipuk-kecipuk. Segaaaarrrrr.
Label:
me
Deal with Mang Alo
Kira-kira sebelum tahun 2000, mamanya Ikhsan yang sedang mempersiapkan sekolah khusus autis Mandiga, pesan selusin celemek, beberapa kantong dan rompi-rompi lucu untuk murid-muridnya nanti.Celemek-celemek tersebut terbuat dari bahan parasut, kira-kira mirip bahan
untuk jas hujan atau jaket.
Waktu itu semuanya saya gunting dan jahit sendiri, karena memang saya gemar menjahit.
Pada suatu hari mamanya Ikhsan e-mail dan tanya, dimana cari bahan parasut.
Rupanya celemek-celemek tersebut sudah waktunya untuk diganti, apalagi murid-murid Mandiga bertambah, sehingga sekarang perlu 27 celemek baru.
E-mail demi e-mail, jadilah saya menawarkan lagi untuk membuatkan celemek.
Gayung bersambut, "proyek celemek" segera diwujudkan.
Mulailah saya survey bahan parasut ke toko imitasi "Semarang" dilanjutkan ke sebuah toko lagi di jl. Otista - Bandung.
Sejak semula, memang saya akan mensubkan proyek ini ke pihak ketiga, karena keterbatasan waktu dan tenaga yang saya miliki.
Rencana semula saya yang menggunting, kemudian menjahitkan ke tukang jahit di pasar atau tepi rel KA.
Tiba-tiba saya teringat sebuah kejadian yang ternyata membawa hikmah.
Kira-kira sebelum saya berangkat ke Yogya di awal bulan Maret, saya mampir ke sebuah toko kue di jl. Kemuning - Bandung.
Keperluan saya adalah membeli kue-kue khas Bandung untuk oleh-oleh kenalan yang ada di Yogya.
Di tempat parkir, saya didatangi seorang pedagang yang menawarkan celemek dapur terbuat dari bahan imitasi juga.
Maka teringat kejadian di awal Maret, keesokan harinya saya mendatangi toko kue di jl. Kemuning tersebut.
Tujuan saya adalah mencari penjaja celemek di halaman parkirnya.
Hari pertama belum bertemu, tapi titip pesan ke tukang koran di bawah pohon.
Hari kedua, barulah saya bertemu dengan penjaja celemek, yang menjuluki dirinya "Mang Alo".
Saya utarakan tentang rencana adik saya ( mamanya Ikhsan ) akan memesan celemek, untuk sekolah khususnya. Kebetulan adik saya memang berencana ke Bandung, tanggal 16 Maret 2008.
Kira Sabtu sore, saya mendapat sms :
Mang Alo : Bu maaf mengganggu ni dari mang alo tukang celemek.jd ga pesan barang klu jd saya tunggu d prima rasa?
Setelah hari Minggu adik saya bertemu langsung dengan Mang Alo, maka hari-hari
berikutnya adalah negosiasi dengan Mang Alo dalam bahasa Sunda yang acak-acakan ( padahal saya sudah 23 tahun tinggal di Bandung ).
Antara lain : Pun rayi aya contona. Bisa pesan seperti contoh teu ? Rencana bade pesen 30. Mang Alo di Primarasa dugi tabuh sbraha ? - Mang Alo, ka Primarasa teu ? Celemek aya perubahan sedikit - Eta pangaosna sbraha - Mangga, aya panjer teu ..........
Jawabannya : Candak enjing contona ka prima rasa. Abdi uih na tabuh 4 - Ya bade ka dinya. Tabuh 11 - Bu, anu alit 15. Anu ageng 20 ..........
Jadilah saya bertransaksi dan membuat kesepakatan dengan Mang Alo, yang nama lengkapnya Ato Tata Supriatna, no HP 081322177xxx, alamatnya Kp. Banceuy RT 03/08
Kec. Solokan Jeruk, Kab. Bandung.
Label:
me
Subscribe to:
Posts (Atom)


