skip to main
|
skip to sidebar
Resep kue kering tanpa terigu untuk para keponakan
yang sedang mencoba berbagai kudapan sehat untuk
sang buah hati.
KUE KERING BAYAM / WORTEL
250 gr bayam / wortel
200 gr gula halus
250 gr margarin
2 kuning telur
500 gr tepung kanji
kismis / cherry
Cara membuat :
Bayam dikukus lalu blender.
Atau wortel dikukus sampai empuk lalu blender.
Saya biasanya pakai wortel import.
Selain cepat empuk, rasanya lebih manis dan
warnanya menarik (lebih orange).
Margarin dan gula halus dimixer sampai lembut/putih.
Tambahkan telur, satu demi satu.
Aduk-aduk tepung, bergantian dengan sayuran.
Cetak.
( Bisa digiling lalu dicetak. Atau pakai cetakan kue
kering )
Beri hiasan.
Panggang sampai matang.
sumber : Resep Femina
Dua keponakan saya, Gita dan Citra, sedang menikmati
tumbuh-kembang anak-anak mereka masing-masing.
Kebetulan "cucu" saya itu, perempuan dan laki-laki.
Masing-masing mempunyai karakter dan cerita
tumbuh-kembang yang bervariasi.
Keponakan saya tentunya internet literate, dimana sumber segala
sumber informasi sekarang ini masih dikuasai oleh Mr.Google.
Saya jadi mengingat-ingat apa yang saya punyai sebagaisumber informasi di tahun 1984, masa kehamilan anak pertama saya.
Majalah Femina dan Ayah-Bunda, untungnya sudah ada.
Informasinya cukup bagus dan mudah dimengerti.
Walaupun demikian, masih saja, saya (tepatnya orang-orang di rumah
Cipinang, rumah ayah-ibu saya) hampir kebobolan.
Masalahnya, di artikel menjelang melahirkan, hanya diceritakan
bahwa akan ada kontraksi yang berulang.Tidak ada penjelasan, rasa sakit kontraksi itu seperti apa.
Saya ternyata sudah mengalami kontraksi kira-kira jam 14,
tanggal 4 Januari 1985.
Yang saya lakukan, saya menahan dan menghela nafas, maka
kontraksi tersebut hilang.
Dan saya tetap melakukan aktifitas, waktu itu
seingat saya, saya sedang menjahit selimut.
Begitu berulang-ulang, sampai saya mandi sore, kira-kira jam 17an.
Kira-kira jam 19.30, ibu saya mengajak saya makan malam.
Saya baru bilang, bahwa sakit perut.
Ibu saya langsung panik. Cepat meminta ayah saya yang baru selesai
praktek untuk mengantar kami ke klinik.
Kami sampai di klinik jam 20.00.
Dan jam 20.30, anak pertama saya lahir.
Tidak ada yang sempat makan malam.Di rumah, ibu saya tidak tidur semalaman.
Tidak terbayangkan kalau saya terlambat ke klinik.
Di tahun pertama, saya lagi-lagi mengandalkan majalah Ayah-Bunda
dan buku "365 Hari Pertama Perkembangan Bayi Sehat" oleh Theodor
Hellbrugge dan J.H. von Wimpffen, ed.
Setiap perkembangan merangkak / duduk / berjalan / memegang dan
persepsi dibahas di tiap bulan usia bayi, tentunya dengan kemampuan
yang berbeda.
Bahkan ada fotonya, bayi usia 5 bulan yang dicoba diberdirikan,
tentunya masih ditumpu kuat-kuat diketiaknya, tidak sungguh-
sungguh berdiri.Memang ada penjelasan bahwa gerakan merangkak besar peranannya dalam
latihan rangkaian otot-otot, koordinasi dan reaksi keseimbangan,
yang nantinya sangat diperlukan pada gerakan berjalan.
Tapi, tidak ada penjelasan, apa akibatnya apabila bayi terlalu
cepat melakukan gerakan berjalan atas kemauan sendiri.
Yang ternyata, dalam perjalanan tumbuh-kembang anak pertama saya,
ada pernyataan Neurolog, bahwa terlalu cepat berjalan mempengaruhi
daya konsentrasi anak.
Buku lain tentang tumbuh-kembang anak, saya peroleh dari ibu saya.
Beliau memfotokopikan buku tebal karangan Benyamin Spock.
Buku andalan ibu saya waktu beliau merawat ke 5 putra-putrinya.
Ada yang saya ikuti, yaitu "membiarkan" anak berangkat tidur sendiri,
dalam rangka supaya anak disiplin dan mandiri.
Padahal, anak saya baru usia 1,5 tahun.
Tidak ada istilah "dikeloni" dalam buku Benyamin Spock.
Bahkan pola pemberian ASI pun, ada istilah, tiap 3 jam.
Lagi-lagi dalam rangka melatih bayi untuk disiplin.
Ternyata belakangan saya mendapat informasi, bahwa Bapak Benyamin
ini tidak pernah menikah, dan belum pernah mempunyai anak sendiri.
Bukunya hanya berdasarkan riset di kliniknya.
Buku andalah ibu saya ini, akhirnya berakhir di tukang loak.
Beruntung keponakan-keponakan saya itu.
Informasi di jaman sekarang luar biasa banyaknya.
Kita tidak perlu tergantung hanya pada satu informasi saja.
Mudah-mudahan tidak ada informasi yang terlewat dan segala
kekhawatiran dapat diantisipasi lebih awal.
Senja, umurnya baru 9 bulan, tapi sudah berdiri dan
siap melangkah dengan pasti.
Eyang-Tantenya, Tatah dan saya, sibuk berkomentar,
a.l. belum siap jalan, biar merangkak dulu,
jangan dirangsang untuk jalan dll.
Saya jadi mengingat kembali, Daridaru yang mulai
bisa jalan diusia tepat 11 bulan.
Melalui tahap merangkak, tapi kurang bagus cara merangkaknya.
Telapak kakinya menapak, bukan merangkak dengan lututnya.
Seingat saya, masa balita tidak ada permasalahan dalam
tumbuh-kembangnya.
Lalu dimasa kelas 1 SD, Daridaru dijuluki "satpam" oleh Wali Kelasnya.
Karena tidak bisa duduk diam, dan selalu sibuk memperhatikan
pekerjaan teman-temannya di kelas.
Di kelas 3 SD, saya dianjurkan oleh walikelas Daridaru untuk
membawanya ke Surya Kanti, sebuah lembaga pelatihan
tumbuh-kembang anak.
Menurut wali kelas, Daridaru sering melamun dan menerawang
ke luar kelas. Akibatnya pekerjaan di kelas sering tidak selesai.
Di Surya Kanti, observasi dilakukan oleh tim ahli dengan terpadu.
Mula-mula tes psikologi oleh seorang psikolog.
Lalu dilanjutkan dengan tes mata ke dokter mata.
Ternyata memang Daridaru harus memakai kacamata, silindris minus 1.
Itu sebabnya dia sering melamun keluar kelas, karena tulisan di
papan tulis tidak jelas.
Selanjutnya oleh neurolog, Daridaru dianjurkan untuk tes EEG ( electro
encephalo graph ) di rumahsakit.
Dalam keadaan terbaring, kepala Daridaru ditempeli berbagai kabel
dan dicatat dalam bentuk grafik.
Kesimpulan observasi Daridaru adalah ADD (attention deficit disorder).
Maksudnya Daridaru, kurang bisa konsentrasi.
Yang mengejutkan dan mengherankan saya, menurut neurolog,
hal ini disebabkan Daridaru terlalu cepat berjalan.
Selanjutnya Daridaru melalui beberapa terapi, yang akhirnya
kami lanjutkan sendiri di rumah.
Karena Daridaru keberatan, melihat kondisi pasien lain
yang berbeda dibanding dirinya.
Mungkin Daridaru merasa dirinya tidak apa-apa.
Terapinya antara lain, melatih motorik halus dengan menggunakan
2 spidol (memang Daridaru tulisan tangannya kurang bagus),
memasukkan benang ke lubang jarum dll.
Untuk konsentrasi, a.l. bermain trampolin, melangkah di balok titian,
dribel bola basket dll.
Selain itu kami harus selalu mengingatkan untuk konsentrasi
apabila memegang gelas, menuang sesuatu, meletakkan sesuatu,
lebih lembut bersikap ke adiknya dll.
Selain itu Daridaru juga les piano dan taekwondo.
Secara tidak sadar, les piano untuk melatih motorik halusnya.
Sedangkan taekwondo untuk melatih motorik kasarnya.
Selain itu juga belajar berenang.
Kejadian tersebut kira-kira 15 tahun y.l.
Rasanya Daridaru tumbuh-kembangnya baik-baik saja.
Tetapi saya masih heran, apa hubungannya antara terlalu cepat jalan
dan kurang konsentrasi ?
Saya mencoba mencari alasan logisnya dari kacamata orang awam.
Coba pendekatannya dari, apa hubungannya merangkak dengan konsentrasi ?
Coba perhatikan, apabila bayi merangkak.
Apa yang digerakkan ?
Apakah tangan kanan melangkah bersama dengan kaki kanan ?
Atau tangan kanan melangkah bersama dengan kaki kiri ?
Normalnya tangan kanan melangkan bersama dengan kaki kiri.
Seperti halnya orang berbaris. Kaki kanan melangkah, tapi yang bergerak
kedepan adalah tangan kiri.
Tapi, bagaimana caranya bayi bisa mengkoordinasikan tangan kanan
dan kaki kiri ?
Sekarang saya tahu, itu sebabnya bayi harus bisa merangkak.
Karena merangkak itu sulit.
Koordinasi berarti konsentrasi.
Nah, ketemu sekarang. Kenapa Daridaru kurang konsentrasi karena
diduga terlalu cepat berjalan.
Kenapa Senja sebaiknya jangan dirangsang untuk berjalan.
Biarkan merangkak sepuasnya. Biarkan tangannya merasakan perabaan berbagai
tekstur lantai yang dia lalui.
Biarkan dia mengkoordinasikan seluruh anggota tangan dan kakinya.
Ingat, semuanya bersilangan disyaraf tulang punggung.
Dengan demikian Senja akan belajar berkonsentrasi.
Mudah-mudahan begitu teorinya.
Setiap Lebaran acara atau ritual yang kami
lakukan adalah sungkem ke orangtua di hari pertama.
Bermaaf-maafan dengan seluruh anggota keluarga.
Lalu foto bersama.
Keesokan harinya acara nyekar atau ziarah.
Pertama ke Kalibata ke makam ayah saya.
Lalu ke Menteng Pulo, ke makam kakak saya yang
meninggal di usia 19 tahun, 40 tahun yang lalu.
Lalu ke Tanah Kusir, ke makam ayah mertua, ibu mertua
dan kakak ipar.
Memandang deretan makam tidak lain yang tersiratadalah kesinilah ujung dari perjalan saya.
Entah dimana saya akan terbaring kelak, tidak terbayang
oleh saya.Apakah saya su
dah siap ?
Sholat Ied Fitri 1 Syawal 1429 H kami laksanakan di
lapangan Masjid Nurul Falaah di Rajamantri-Buah Batu-Bandung.
Berempat jalan kaki dari rumah.
Rumah dikunci-kunci. Banyak pintu yang perlu dikunci.
Bapak dan Daru jalan berdua, ke lapangan bagian depan.
Ibu dan Apsaras ke lapangan belakang ke bagian akhwat.
Cari permukaan yang berconblock. Jangan di rumput, nanti
sajadah basah.
Padahal dari pengeras suara, berulang diumumkan agar
menempati shaf yang kosong.
Sholat tepat 06.30. Dua rakaat dengan 7 kali takbir.
Ceramahnya tentang himbauan agar tidak takabur.
Betapa manusia itu mudah sekali takabur.
Selesai sholat kembali ke rumah, siap-siap ke Jakarta.
Silaturahmi dulu ke tetangga.
Lalu sungkem.
Memohon maaf atas segala kesalahan.
Mata memandang jauh ke lubuk hati pasangan.
Tak kuasa menahan titik airmata.
Betapa banyak hal yang telah dilalui bersama.
Betapa banyak persoalan yang harus didiskusikan
dan dicari solusinya.
Anak-anak satu persatu sungkem dan memohon maaf.
Do'a-do'a disampaikan, lalu peluk dan cium.
Yaaaah .... mulai lagi dari awal.
Insya Allah bertemu lagi di Ramadhan yang akan datang.