my piano

my piano

Thursday, December 04, 2008

memilih

Daridaru jadi elang.
Harapannya dia mengepakkan sayap, terbang tinggi.
Menjadi kuat, mengarungi angkasa dan membuat sarangnya
sendiri.
Wah, perlu persiapan.....
Paling tidak perlu outfit yang gaya dan representatif.
Tidak lucu kalau penampilan lusuh dan tidak menjanjikan.
Jangan ditanya waktu yang dibutuhkan untuk memilih.
Ternyata oh ternyata...masih percaya dengan pilihan ibu
daripada memilih sendiri.

Dalam waktu dekat bahkan ibu-ayah-adik akan menengok

sarang baru.
Bahkan membawakan segala sesuatu untuk menata sarang barunya.
Jangan ditanya juga, khusus ke Pasar Baru untuk mencari
dan memilih segala sesuatunya.

Padahal katanya mau jadi busur.....
Anakmu bukan milikmu, dia adalah milik masa depan....

ringtone

Dalam sebuah acara musik klasik atau konser,
biasanya sebelum acara dimulai, panitia atau MC
(master ceremony) akan mengumumkan supaya penonton
mematikan telpon genggam atau merubah nada dering
menjadi nada getar.
Tujuannya tak lain dan tak bukan, supaya pemain dan
penonton tidak terganggu.
Karena memang menjengkelkan apabila ditengah suara
alunan musik klasik yang perlu konsentrasi untuk
memainkan dan mendengarkan, tiba-tiba dikejutkan oleh
nada dering telpon genggam dari penonton.
Apalagi kalau bukan hanya satu orang tapi bertubi-tubi
dari penonton-penonton lain.

Tapi, apa yang terjadi di sebuah seminar, rapat di dinas atau
rapat di kantor ?
Ditengah-tengah pidato sambutan dari ketua dinas, tiba-tiba
ada suara dering telpon. Tidak hanya dari tamu undangan,
tapi dari staf yang duduk di depan.
Begitu juga pada sebuah seminar. Ditengah pembacaan do'a,
dering telpon dari peserta seminar, petugas foto dokumentasi dll.
Bagus apabila peserta sadar dan cepat tanggap untuk mematikan
telponnya. Menjengkelkan apabila, telpon masih dicari-cari
di dalam tas sementara dering dengan nada lagu tradisional
bertambah keras bunyinya.
Lebih menjengkelkan apabila telpon diangkat dan pemilik telpon
dengan santai menjawab dan tanpa sadar berbicara dengan keras.
Menurut pengamatan saya, ada kecenderungan orang berbicara
lebih keras apabila bertelpon daripada berbicara langsung
dengan seseorang di depannya.

Kenapa yaaa.... sebelum acara seminar dan rapat, tidak diumumkan
juga supaya peserta mematikan telpon genggam atau merubah nada dering
ke nada getar.
Komunikasi dengan pihak lain, apabila dianggap sangat penting,
tetap bisa berlangsung, tapi tidak mengganggu orang lain.

Sunday, November 09, 2008

Proyek Konser

Bulan depan akan ada konser.
Berarti murid-murid harus disiapkan.
Persiapan harus sudah dilakukan 1 sampai 3 bulan sebelumnya,
tergantung kemampuan tiap-tiap murid.
Murid diberi motivasi dan belajar hidup dengan target-target.
Targetnya, si A harus bisa main lagu 3 menit.
Si B harus bisa hafal dalam waktu 1 bulan.
Si C dibujuk supaya mau ikut konser.
Si D diberi lagu yang ceria dan cepat.

Persyaratan ikut konser, murid harus diaudisi.

Lagu yang sama, otomatis akan ada perbandingan, dan murid
harus siap mengukur diri sendiri lebih baik daripada murid lain.
Saya lebih condong, memilihkan lagu yang kira-kira tidak dipilih
oleh guru lain.

Dengan demikian murid lebih tenang dan konsentrasi.
Tak masalah dengan stok lagu, lagu ada ribuan.

Beberapa bisa diunduh dari website atau pesan ke bukumusic.com.
Untungnya kurikulum Indra Musik, membebaskan guru memilih sendiri
lagu-lagu untuk materi pelajaran dan konser.


Haura main lagu Doll's Dream - J.Oesten.
Tari main lagu Addaptation of Hungarian Rhapsody - F.Liszt dan
Castanet - C.Rowlin.
Tari juga berduet dengan adiknya Ranti, main lagu Forward March - J.Bastien.

Kalau siap Tari saya targetkan main Concerto D major - 3rd.movt -
J.Haydn. Sebuah komposisi dua piano.
Lalu Afifa duet dengan Puti, main Rondo - J.F.C. Bach.
Afifa juga mengiringi sepupunya Iba, main There is a Hippo in my Tree,
sebuah lagu lucu karya
D. Alexander.

Siapa lagi yaaa.....
Oh, Triadi, ABG mirip Afgan ini, rencananya main Bohemian Rhapsody -
F. Mercury. Mudah-mudahan bagian tempo cepat bisa dia kuasai.
Masih 3 lembar lagi yang dia belum hafal.

Sarah, si rajin, main Sherzo - F.Schubert. Dia sih tak ada masalah
sudah sejak Agustus hafal lagu ini.
Rafi, disiapkan dengan 2 lagu pendek, My First Hit Single - Pam Wedgwood
dan
Calypso Rhumba - Alfred.
Saya perlu menyiapkan mentalnya kembali, supaya mau ikut konser.
Murid yang sempat dapat nominasi Pemenang Harapan pada
Lomba Piano tingkat Jawa Barat ini, hampir 1 tahun mogok les.
Tinggal Jo nih. Lagu Doll's Dream yang dipelajari sejak Juni,
progresnya sangat lambat.

Kalau proyek pembangunan, keberhasilan dinilai dari ujud bangunan
yang berdiri dengan megah dan nilai proyek ratusan juta rupiah.
Maka, untuk saya, proyek konser ini, keberhasilan cukuplah dengan
perasan bangga, murid bisa mengatasi rasa gugup.
Bangga bahwa murid menjadi percaya diri.
Keluarga murid, ayah-ibu-paman-bibi-nenek-kakek-kakak-adik
turut bangga, walaupun hanya dengan membawakan lagu berdurasi 3 menit.

Bangga akan murid adalah sebuah nilai yang tak ternilai.

30 menit

Les piano di tempat saya mengajar diberikan dalam bentuk
privat selama 30 menit dan grup selama 30 menit - 1 jam.

Beginilah les privat 30 menit, apabila mengajar murid,
seorang gadis kecil usia 4,5 tahun. Namanya Asih.

Menit ke 0 - 5
Murid masuk ke ruangan, lapor:"Asih punya baju Cinderella"
Guru : "Oh ya ? Sini duduk, mana bukunya ?"
Murid: "Ambilin".
Guru : "Ambil sendiri".
Murid tidak ambil buku, tapi terus cerita :
"Nanti Asih mau makan siang KFC. Biasanya Hoka-hoka Bento".
Akhirnya guru juga yang mengambilkan buku dari dalam tas.

Menit ke 6 - 10
Guru membuka halaman buku dan menunjukkan lagu yang harusnya

dimainkan murid.
Murid: "Asih nggak mau lagu ini. Mau lagu yang ini aja".
Sambil mencari-cari lagu yang lain.
Tiba-tiba, murid main lagu yang dia pernah dengar.
Murid: "Asih bisa main lagu ini".
Memang yang dia mainkan lagu Symphoni no 9 - L.v.Beethoven,
tapi dia memainkan apa yang dia pernah dengar.
Bukan sungguh-sungguh mempelajari lagu dengan terstruktur.

Menit ke 11 - 20
Guru membujuk murid untuk konsentrasi dan kembali ke pelajaran.

Murid: "Asih main yang ini aja. Ibu main yang ini".
Akhirnya murid main bagian tangan kanan, guru main bagian

tangan kiri.
Guru membujuk: "Sekarang tukar yaaaa".
Murid main tangan kiri, guru pindah duduk, main bagian tangan kanan.

Guru membujuk lagi: "Coba .... sekarang main sendiri 2 tangan".
Kadang menurut, seringnya tidak.

Menit ke 21 - 25
Guru mengeluarkan ultimatum: "Ayo, kalau tidak main, belum
boleh pulang".
Murid: "Main yang ini ?".
Guru : "IYAAA !!!!"

Menit ke 26 - 30
Murid: "Dingin. Sebentar ah. Asih bisa matiin AC koq".
Konsentrasi buyar dan berantakan lagi.
Murid sibuk dengan remote control.
Guru : "Udah. Sini main lagi".
Murid: "Pulangnya masih lama ?"
Guru membujuk : "Masih ada waktu. Ayo main lagi".
Murid duduk dan membalik-balik buku : "Nggak mau main lagi ah".
Guru : "#&***!!!!%% ..........."